Eksklusifitas Pada Aktivis Dakwah

Benarkah kebanyakan aktivis dakwah terkesan eksklusif? Bagaimana dengan rohis maupun LDK-nya? Kira-kira seperti itulah hal yang saya rasakan sedari SMA sampai saat saya di perguruan tinggi sekarang ini. Adanya kecenderungan bagi aktivis dakwah untuk menutup diri dan bahkan mengekskusifkan diri atau kelompoknya, memang membuat suatu hal yang dapat menimbulkan kesenjangan terhadap lingkungannya. Apalagi terhadap teman-teman yang non-aktivis dakwah.

 

Hal semacam itu juga sering saya dengar dari teman-teman non-aktivis dakwah, yang memandang bahwa aktivis dakwah itu cenderung eksklusif, jarang bergaul,atau bahkan fanatik serta memiliki syarat yang tinggi untuk dapat masuk ke dalam kelompoknya, seperti harus dapat membaca alquran beserta tajwidnya,bagi yang wanita haruslah memakai jilbab, dll. Hal ini tentu saja akan membuat teman-teman yang non-aktivis merasa segan atau bahkan cenderung ‘malas’ saat ingin bergaul dengan para aktivis dakwah, begitu juga sebaliknya. Sehingga perlu diambil pelajaran bagi berbagai organisasi dakwah, bahwa sering kali temen-temen kita beranggapan bahwa organisasi itu “EKSLUSIF” dan orang-orangnya “Fanatik”.

 

Padahal yang saya rasakan saat terlibat dalam organisasi dakwah, semua orang-orangnya sama sekali tidak seperti itu dan tidak akan pernah seperti itu. Lantas apa yang menyebabkan teman-teman kita yang non-aktivis beranggapan seperti itu? Apakah benar kalau para aktivis dakwah jarang bergaul dengan mereka? Merasa bahwa tidak adanya kecocokan saat bergaul dengan yang lain? Lebih merasa nyaman bila bersama dengan yang ‘sejenis’ dengan mereka? Hal tersebut tentunya tidaklah salah bila terjadi klop/ gap dalam pergaulan, atas dasar adanya kecocokan pada kebiasaaan, hobi maupun dalam sikap bergaul.

 

Lalu, adakah yang dapat memberitahu pada saya solusi dari fenomena di atas?

One thought on “Eksklusifitas Pada Aktivis Dakwah

  1. Assalamu’alaikum…
    Subhanallah sekali materi yang anda angkat..
    Menurut saya,, mau tidak mau memang akan terjadi kesenjangan atau jarak yang memisahkan antara aktivis dan non-aktivis. hal itu karena memang ada perbedaan segi kehidupan sehari-harinya..

    orang-orang non-aktivis juga tidak sepenuhnya memandang para aktivis sebagai kaum eksklusif.. ada memang beberapa orang yang menganggap bahwa para aktivis tidak cocok dengannya dalam bergaul dan menganggap remeh mereka sehingga akan ada jarak yang jelas terpampang antara orang2 ini dg para aktivis…

    tapi ada juga orang2 non-aktivis yang merasa nyaman dan sangat terbantu sekali dengan mereka berteman pada para aktivis,, mereka ini biasanya orang yg sangat ingin memperbaiki akhlak pribadinya dengan banyak belajar pada orang yang baik akhlaknya.. tapi mereka juga belum bisa lepas dari pergaulan sebelumnya yang kurang baik dan teman2 sebelumnya yang juga kurang baik..

    fenomena meningkatnya para aktivis dakwah adalah angin segar bagi umat Islam di Indonesia yang kehausan akan spiritualnya.. tapi yang menjadi masalah kadang para aktivis kurang tahan banting,, kurang berani untuk menyatu dengan kelompok2 yang sangat membutuhkan bantuan..
    Kunci bagi para aktivis adalah harus sabar.. Tentunya akan banyak tantangan dan hambatan untuk menjalankan risalah Islam,, itu sudah terjadi sejak jaman2 rasul2 terdahulu… Tapi mereka harus yakin bahwa apa yang mereka cari adalah Ridho Allah dan surga akan didapatkan di akhir hayatnya… Amin..
    Wassalamu’alikum

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s