Klasifikasi Adik Binaan

Di dalam Karisma (organisasi pembinaan remaja yang berpusat di salman ITB), tentunya analisa dan evaluasi mengenai adik-adik bina merupakan hal yang penting untuk dilakukan. Agar pola pembinaan yang diberikan dapat disesuaikan untuk masing-masing adik (baca: remaja). Dari landasan pola pembinaan adik itulah kemudian dibuat pengklasifikasian adik berdasarkan tingkah laku serta tingkat kepedulian terhadap diniyahnya. klasifikasi adik kemudian dibagi menjadi 3, yaitu:

 

1. Remaja Aktivis
Merupakan adik yang telah memliki kepedulian yang tinggi mengenai Agamanya. Adapun remaja Aktivis memenuhui parameter sbb :
1. Berorganisasi dan aktif dalam sebuag organisasi yang sesuai dengan nilai keislaman.
2. Mengikuti dan melakukan Pengajian rutin.
3. Melakukan ibadah sunah rutin.

 

2. Remaja Hanif
Merupakan remaja yang tidak secara khusus memberikan perhatiannya terhadap masalah diniyah namun tetap menunjukkan sikap dan tingkah laku yang baik.

Adapun remaja Hanif memenuhui parameter sbb :
1. Melakukan Ibadah wajib rutin.
2. Memafaatkan waktu dengan baik.
3. Pakain menutup aurat.
4. Lancar membaca Al Qur’an.

 

3. Remaja Apatis
Merupakan remaja yang kepedulian terhadap masalah diniyahnya rendah. Adapun remaja apatis mempunyai kriteria yang belum mencakup kriteria pada remaja hanif dan apatis.(misal : Ibadah wajib belum rutin, pakaian belum menutup aurat, dll)
Catatan : Adik dapat di masukkan ke dalam sebuah golongan diantara ketiga diatas apabila memiliki dominan kriteria yang dimaksud.

 

Adapun setelah melakukan klasifikasi adik bina, maka dalam melakukan pembinaan, diperlukannya penekanan mengenai pemberian materi-materi tertentu untuk tiap-tiap adik, antara lain:
1. Remaja apatis        : Iman dan Akhlak.
2. Remaja Hanif        : Akal Rasio, kejiwaan dan akhlak.
3. Remaja Aktivis    : Iman, kejiwaan, fisik, seksual dan akhlak.
Catatan : Titik tekan pembinaan merupakan hal yang harus banyak mengambil porsi dalam pemberian dan penyampai materi. Adapun aspek lain dapat juga diberikan hanya saja tidak menjadi penekenan dalam pembinaan misal pada remaja apatis, untuk aspek seksual juga dapat diberikan mengingat kebutuhn akan pendidikan seksual bagi remaja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s