Peran Industri Strategis dan Penguasaan IPTEK Dalam Rangka Meningkatkan Kemandirian Bangsa

Perdagangan bebas Asean-Cina 2010, saat ini merupakan topik yang banyak dibahas oleh berbagai kalangan mulai dari kalangan bawah sampai pada kalangan elit di negeri ini. Bagaimana tidak, perdagangan bebas yang akan terjadi di tahun 2010 tentunya akan membawa dampak yang sangat besar bagi perekonomian di negeri ini. Mulai dari industri raksasa sampai pada industri kecil dan menengah, tentunya akan menjadi ancaman yang sangat serius bagi industri-industri di  Indonesia. Telah terlihat adanya indikasi dari sektor industri, bahwa rencana pemberlakuan perdagangan bebas (Free Trade Area) Asean-Cina di awal tahun 2010, merupakan ancaman yang serius,  karena ketidaksiapan industri nasional. Penurunan tarif bea masuk sejak 2005 secara bertahap hingga penghapusan tarif nol persen pada 2010, merupakan awal hancurnya industri nasional. Pada keadaan saat ini saja, dimana dengan bea masuk 5%, industri nasional sudah mulai banyak gulung tikar, karena harga-harga produk Cina seperti alat elektronik, tekstil, manufaktur jauh lebih murah dibanding produk nasional.

 

Dalam industri nasional sendiri, kebanyakan industri di Indonesia belum siap dengan adanya persaingan dalam pasar bebas Asean-Cina. Ketidaksiapan yang banyak berangkat dari ketidaksiapan dari kualitas produk yang akan dijual, serta harga yang kalah bersaing. Sehingga muncul kekhawatiran bahwa imbas dari perdagangan bebas ini akan banyak menyebabkan industri-industri kecil dan rumah tangga akan mengalami kebangkrutan dan timbul banyak pemutusan hubungan kerja. Hal ini tentunya disebabkan karena kemampuan produksi massal Cina dan harga yang murah menyebabkan produk Indonesia kalah dalam hal daya saing.

 

Adanya pasar Cina yang begitu pesat masuk ke dalam negeri ini disebabkan juga oleh berbagai macam keunggulan dari produk-produk Cina sendiri. Menyebabkan produk-produk Cina lebih dapat diterima di pasaran bebas dunia, termasuk di Asean. Seperti yang diketahui bahwa kebanyakan produk cina merupakan mass production , yaitu produk yang dihasilkan dalam jumlah banyak. Selain itu, perkembangan yang pesat dari industri manufaktur, dengan didirikannya banyak pabrik-pabrik manufaktur di Cina, untuk berbagai jenis produk mulai dari jarum, sparepart kendaraan bermotor, sampai pada peralatan berat. Serta pada kemampuan Cina dalam mengembangkan teknologi reverse engineering, yaitu teknologi yang memungkinkan untuk meniru suatu produk yang telah ada, dengan kualitas yang sama dengan produk aslinya. Sedangkan dalam industri nasional sendiri, kebanyakan industri di Indonesia belum siap dengan adanya persaingan dalam pasar bebas Asean-Cina.

 

Masalah yang ada pada industri Indonesia adalah kemampuan dari industri di  Indonesia sendiri yang kurang dapat menciptakan budaya persaingan yang sehat serta barang yang diproduksi masih dalam jumlah sedikit dengan kualitas yang kurang bersaing. Adapun kendalanya dari segi modal atau dana yang menyebabkan kesulitan dalam memproduksi barang/produk. Selain itu, sangat sedikit industri-industri nasional yang dapat bersaing dengan industri Cina, khususnya dalam hal industri manufaktur. Seperti halnya industri baja, Cina telah dapat memproduksi 350 juta ton per tahun, sedangkan untuk industri dalam negeri seperti Krakatau Steel, hanya dapat memproduksi sekitar 2,2 – 2,5 juta ton per tahun. Pada industri obat-obatan, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Farmasi Indonesia, Anthony Sunarjo, mengatakan bahwa Cina mampu memproduksi 10 juta obat, sedangkan Indonesia hanya mampu memproduksi 100 ribu obat. Industri keramik juga tak bakal mendominasi pasar domestik. Produsen keramik mengkhawatirkan masuknya produk Cina seiring dengan pemberlakuan perdagangan bebas tersebut. Masalahnya, karena produk luar negeri memang sering dianggap lebih bagus dan berkualitas. Apalagi dalam hal industri manufaktur lainnya, belum banyak industri nasional yang dapat mengembangkan teknologi reverse engineering ataupun dalam hal mass production.

 

Namun, terlepas dari kekhawatiran produsen domestik, adanya pengawasan terhadap barang-barang yang masuk ke Indonesia juga sangat penting dilakukan, seperti halnya Pemerintah Provinsi DKI yang memperketat pengawasan terhadap produk asal Cina. Pengawasan dilakukan secara berkesinambungan mulai dari pintu masuk barang sampai kepada peredaran di pasar. Pengawasan ketat itu diperlukan karena beberapa kali temuan memperlihatkan bahwa produk Cina mengandung banyak zat berbahaya. Dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) DKI Jakarta, misalnya, beberapa kali menemukan produk kosmetik dan susu asal Cina yang mengandung zat melamin. Untuk menjamin produk yang beredar di pasaran Jakarta bebas dari zat-zat berbahaya itu, instansi berwenang akan mengintensifkan razia ke pusat-pusat perbelanjaan.

 

Dalam hal perdagangan bebas Asean-Cina saat ini, tidak memungkiri bahwa bukan hanya produk dengan kualitas baik saja yang dapat masuk ke dalam Indonesia tapi juga produk dengan kualitas buruk dan berbahaya juga dapat masuk dengan bebas serta menyerang pasar Indonesia. Dalam hal ini diperlukan kesadaran dari masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam menyeleksi barang-barang yang aman untuk digunakan serta lebih percaya dan bergantung pada produk buatan Indonesia.

 

Dalam melindungi industri-industri dalam negeri, khususnya industri kecil, maka diperlukannya usaha dari pemerintah sendiri dengan membuat kebijakan yang dapat berpihak pada industri domestik. Serta solusi dalam memenangkan persaingan perdagangan bebas ini adalah kreativitas dari para pemilik industri kecil, rumah tangga, untuk dapat mengembangkan produknya dengan lebih inovatif dan kreatif sehingga dapat merebut hati para konsumen di pasaran bebas Asean-Cina.

 

Disamping itu, solusi dalam persaingan bebas ini adalah perlunya pengembangan dari sektor-sektor industri strategis yang berkaitan dengan pembangunan di negeri ini, sangat penting dilakukan. Dimulai dari industri hulu, seperti pada bidang pertambangan, material dan metalurgi, sampai pada industri-industri hilir seperti industri manufaktur. Di Indonesia sendiri, perlunya peran dari industri-industri besar seperti PT. Krakatau Steel, PT. Pindad, PT. INKA, PT. PAL, PT. DI, dan PLN, sangat penting dalam hal peningkatan kemandirian bangsa serta efisiensi anggaran belanja. Di saat bangsa Indonesia telah dapat membuat segala hal sendiri, mulai dari bahan baku/material, peralatan militer/pertahanan, sarana transportasi, serta pengelolaan energi dengan baik, maka tidak lagi banyak membutuhkan impor berbagai macam barang dari luar. Sehingga hal ini tentunya akan dapat meningkatkan efisiensi anggaran belanja yang tentunya akan dapat meningkatkan kehidupan perekonomian di  Indonesia. Serta dapat menunjang berbagai macam aktivitas dari industri kecil dan menengah. Sebelum hal itu terlaksana, tentunya dibutuhkan juga penerapan teknologi yang baik dan berkembang, dengan melibatkan tiga pelaku utamanya, yaitu perguruan tinggi, lembaga penelitian, serta kalangan industri.

 

(sumber gambar: http://www.google.com)

 

Untuk mempercepat proses penguasaan teknologi dalam rangka pembentukan berbagai pusat keunggulan teknologi, serta penerapan hasil teknologi pada industri, perlu dilakukan pendayagunaan seluruh sarana dan prasarana yang telah ada baik milik pemerintah maupun milik swasta. Kerjasama dan koordinasi yang baik antara ketiga pelaku teknologi pun tersebut perlu ditingkatkan,  dikembangkan dan dimantapkan. Sehingga, penelitian dan pengembangan yang berbuah pada teknologi, dapat diterapkan secara luas dalam sistem produksi barang dan jasa di Indonesia. Dengan demikian dapat meningkatkan kehidupan ekonomi Indonesia serta meningkatkan daya saing bangsa Indonesia di perdagangan bebas Asean-Cina.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s