Tentang 5 cm…

5 cm

Sumber gambar: http://geminininiek.blogspot.com/2013/01/5-cm.html

5 cm…

Sebuah film yang menampilkan tentang impian, cinta, dan perjuangan. Tema yang dibangun di dalam film-nya (karena saya ga baca novelnya) menggugah kesadaran kita akan zona nyaman yang secara sadar atau tidak, sudah kita bangun saat ini.

Walaupun filmnya udah tayang desember tahun lalu, tapi baru sekarang ini saya bisa nge-posting pendapat saya tentang film ini.

“Yang Berani Nyela Indonesia, Ribut Ama Gua!”,

adalah tag-line dari film 5 cm yang sangar dan keren. Tapi saya khawatir dengan implementasi dari tag-line ini. Saya melihat bahwa Indonesia mewarisi tekad dari presiden Pertama-nya, Sukarno, yaitu tentang permusuhan abadi dengan Malaysia. Karena sangat sensitif dengan negara tetangga ini, bahkan hanya karena masalah sepak bola aja, kita jadi mudah mencaci maki, bahkan menghancurkan barang milik orang lain yang belum tentu menzalimi kita.

Tag-line ini bisa mengarahkan kita pada paradigma; membangun jati diri bangsa yang arogan, yang ga bisa di kritik, yang ga mau disalahkan, yang ga toleran, dan yang maunya menang sendiri. Tentunya yang kayak gini bisa menimbulkan petaka jika digunakan semena-mena. Apalagi jika kita booming-kan tag-line ini, saya khawatir hal ini akan menimbulkan sikap kecintaan (ashobiyah) yang berlebihan terhadap nasionalisme kita, tanpa melihat apakah kita sudah melakukan sesuatu dengan benar dan adil, atau belum. Sebagaimana kecintaan yang berlebihan tersebut ada pada bangsa Aria yang dimiliki oleh Jerman ketika perang dunia ke dua. Sama juga dengan bangsa Mesir dan Persia sebelum turunnya Rasulullah SAW. Mudah-mudahan Indonesia bukan merupakan dan ga menjadi salah satu dari dua contoh tadi.

“Seseorang yang berkeyakinan benar, bertauhid lurus, tidak saja menjadikan dia bebas dan merdeka, melainkan juga akan sadar bahwa kedudukannya sama dengan manusia lainnya. Dalam keyakinannya, tidak ada manusia yang lebih mulia di hadapan Allah, apakah karena suku, kelompok, golongan, dan ras, semua mereka sama di mata Allah. Yang membedakan mereka antara satu dan yang lainnya adalah ketakwaan pada Allah.” (Mukaddimah Tafsir al-asas, ditulis oleh Ustadz Darwis Abu Ubaidah).

Saya mencintai Indonesia dengan semua kebaikan yang ada di dalamnya dan membenci keburukan yang dilakukan oleh oknum ber-KTP Indonesia. Begitulah pendapat saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s